Menjelang Hari Jadi ke-733 Kabupaten Tuban: Dari Jejak Sunan Bonang hingga Brang Wetan, PC PMII Tuban Bedah Sejarah Peradaban Tuban (Foto : PMII Tuban)

PC PMII TUBAN - Menjelang peringatan Hari Jadi Kabupaten Tuban ke-733, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Tuban menyelenggarakan kegiatan napak tilas sejarah tokoh-tokoh Islam di Kabupaten Tuban, Minggu (8/11/2026). Kegiatan ini menjadi salah satu upaya membangun kesadaran historis generasi muda terhadap perjalanan panjang sejarah, kebudayaan, dan peradaban Islam di Bumi Wali.

Mengusung tema “Napak Tilas Sejarah Tokoh-Tokoh Islam di Kabupaten Tuban”, kegiatan ini tidak sekadar menjadi perjalanan wisata religi, melainkan ruang edukasi dan refleksi untuk mengenali kembali jejak sejarah yang membentuk identitas Kabupaten Tuban.

Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak mengunjungi sejumlah situs bersejarah, di antaranya Makam Sunan Bonang, Makam Sunan Bejagung Lor, dan Makam Citrosoman. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi sejarah tokoh-tokoh Islam Tuban yang bertempat di Caffe Tanna.

Pembahasan dalam kegiatan ini tidak hanya berfokus pada sejarah penyebaran Islam, tetapi juga menelusuri perjalanan Kabupaten Tuban dari berbagai periode sejarah. Salah satu pembahasan yang menarik adalah dinamika Tuban pada masa Mataram Islam, termasuk kedudukan dan identitas wilayah yang dikenal dengan istilah "Brang Wetan".

Istilah Brang Wetan menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami posisi Tuban dalam dinamika sejarah Jawa, khususnya dalam konteks perkembangan kekuasaan, hubungan antarkerajaan, serta perubahan sosial dan kebudayaan masyarakat pada masa lampau.

Pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa sejarah Tuban tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang peradaban Jawa. Sebagai wilayah pesisir utara, Tuban memiliki posisi penting dalam perkembangan perdagangan, penyebaran agama, serta interaksi kebudayaan yang turut membentuk karakter masyarakatnya hingga saat ini.

Menggali Kembali Jejak Tokoh dan Peradaban Islam Tuban

Salah satu destinasi utama dalam kegiatan napak tilas adalah Makam Sunan Bonang. Sebagai salah satu tokoh Wali Songo, Sunan Bonang memiliki peran penting dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa, khususnya melalui pendekatan dakwah yang memadukan nilai-nilai keislaman dengan kebudayaan masyarakat.

Jejak sejarah Sunan Bonang menjadi bagian penting dari identitas Kabupaten Tuban sebagai salah satu daerah yang memiliki kekayaan tradisi keislaman. Melalui perjalanan tersebut, peserta diajak memahami bahwa penyebaran Islam di wilayah pesisir Jawa berlangsung melalui proses sosial dan kebudayaan yang panjang.

Selain itu, kunjungan ke Makam Sunan Bejagung Lor dan Makam Citrosoman menjadi bagian dari upaya memperluas pengetahuan peserta terhadap situs-situs sejarah dan tradisi keagamaan yang berkembang di Kabupaten Tuban.

Bagi PC PMII Tuban, mengenali sejarah para tokoh bukan hanya tentang mengenang nama dan perjuangan mereka. Lebih dari itu, terdapat nilai-nilai intelektual, sosial, spiritual, dan kebudayaan yang perlu dipahami serta direfleksikan oleh generasi muda.

M. Ilham Fachrurozi Amsyah: Sejarah Lokal Harus Menjadi Kesadaran Generasi Muda

Menurut M. Ilham Fachrurozi Amsyah, kegiatan napak tilas sejarah memiliki arti penting dalam membangun kesadaran generasi muda terhadap identitas dan perjalanan daerahnya. Sejarah tidak seharusnya hanya dipahami sebagai cerita masa lalu, tetapi perlu dijadikan sumber pengetahuan untuk membaca realitas sosial dan menentukan arah masa depan.

Momentum menjelang Hari Jadi Kabupaten Tuban ke-733 menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah tidak cukup hanya berorientasi pada aspek fisik dan ekonomi. Penguatan identitas kebudayaan, pelestarian warisan sejarah, serta peningkatan literasi sejarah juga merupakan bagian penting dalam membangun peradaban daerah.

Menurutnya, generasi muda, khususnya mahasiswa, memiliki tanggung jawab untuk menggali kembali sejarah lokal yang selama ini belum banyak mendapatkan perhatian. Sebab, tanpa pemahaman terhadap sejarahnya sendiri, generasi muda berpotensi kehilangan hubungan dengan akar kebudayaan dan identitas daerahnya.

Ia juga menekankan pentingnya membaca sejarah secara kritis. Artinya, sejarah tidak cukup hanya diterima sebagai cerita yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi perlu ditelusuri melalui sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, didiskusikan, dan dikembangkan menjadi pengetahuan publik.

Dengan demikian, kegiatan napak tilas diharapkan mampu menjadi langkah awal untuk menumbuhkan tradisi intelektual yang lebih kuat dalam mengkaji sejarah dan kebudayaan Kabupaten Tuban.

Sebagai organisasi mahasiswa, PMII memiliki tanggung jawab untuk membangun tradisi intelektual yang tidak hanya berorientasi pada persoalan politik dan dinamika organisasi, tetapi juga memiliki kedekatan dengan realitas sosial dan sejarah masyarakat.

Kegiatan napak tilas ini menjadi salah satu bentuk aktualisasi tanggung jawab tersebut. Kader PMII didorong untuk memahami bahwa gerakan mahasiswa tidak dapat dilepaskan dari konteks sejarah, kebudayaan, dan kondisi masyarakat tempat mereka berproses.

Tuban memiliki kekayaan sejarah yang perlu terus digali dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya. Mulai dari perjalanan kerajaan, perkembangan Islam, dinamika masyarakat pesisir, hingga keberadaan tokoh-tokoh yang memiliki kontribusi terhadap pembentukan identitas daerah.

Oleh karena itu, merawat sejarah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau kalangan sejarawan. Mahasiswa dan organisasi kepemudaan juga memiliki peran strategis dalam memperkuat literasi sejarah, menjaga situs peninggalan, serta membangun ruang-ruang diskusi yang membahas perjalanan peradaban daerah.

Menjelang Hari Jadi ke-733, Meneguhkan Identitas dan Ingatan Kolektif

Menjelang Hari Jadi Kabupaten Tuban ke-733, kegiatan napak tilas ini menjadi momentum untuk kembali mengingat bahwa Tuban bukan sekadar wilayah administratif, melainkan daerah yang memiliki perjalanan sejarah dan peradaban panjang.

Peringatan hari jadi semestinya tidak hanya dimaknai melalui kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi kesempatan untuk merefleksikan perjalanan daerah, mengenali para tokoh pendahulu, serta memahami nilai-nilai sejarah yang membentuk identitas masyarakat Tuban.

Melalui kegiatan ini, PC PMII Tuban berupaya menghadirkan perspektif bahwa masa depan daerah harus dibangun dengan kesadaran terhadap masa lalunya. Kemajuan tidak berarti meninggalkan sejarah, melainkan menjadikan sejarah sebagai fondasi untuk membangun kehidupan masyarakat yang lebih berkeadilan dan berkemajuan.

Pada akhirnya, napak tilas sejarah tokoh-tokoh Islam Kabupaten Tuban merupakan ikhtiar untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat, memperkuat identitas lokal, dan menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap warisan peradaban daerah.


Sebab, daerah yang besar bukan hanya daerah yang mampu membangun masa depannya, tetapi juga daerah yang tidak pernah kehilangan ingatan terhadap sejarah dan perjuangan para pendahulunya.