![]() |
| Kritik Keras Program MBG dan KDMP, PC PMII Tuban Desak Kemurnian Anggaran Pendidikan (Foto : PMII Tuban) |
PC PMII TUBAN - Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa
Islam Indonesia (PMII) bersama aliansi aktivis Cipayung dari IMM dan GMNI
menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran pada Kamis 18 Juni 2026. Mereka
bergerak kompak mengepung Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tuban
demi menyuarakan jeritan hati rakyat kecil yang merasa kian terhimpit.
Aksi massa yang dimulai sejak
siang hari ini diawali dengan long march dan orasi bergantian di Bundaran
Patung Letda Sucipto. Mereka menegaskan bahwa kebijakan pemerintah saat ini
dirasa semakin jauh dari rakyat dan cenderung mengabaikan konstitusi.
Atas dasar keprihatinan itulah,
para aktivis mahasiswa Tuban membawa lima tuntutan krusial yang mendesak untuk
segera diselesaikan oleh pemerintah pusat maupun daerah.
Tuntutan pertama yang menjadi
sorotan utama adalah masalah pendidikan. Mahasiswa dengan tegas menuntut
kemurnian fungsi anggaran pendidikan sebesar 20 persen agar tetap fokus untuk
fasilitas sekolah dan tidak tergerus oleh program baru.
Menurut Roviq Wahyudin selaku Ketua
PC PMII, Mengatakan bahwa pendidikan semestinya menjadi prioritas utama negara,
terlebih masih banyak persoalan mendasar di daerah yang belum terselesaikan,
seperti tingginya angka putus sekolah, buruknya kesejahteraan guru honorer,
hingga minimnya fasilitas belajar-mengajar.
Selain masalah pendidikan,
mahasiswa juga mengkritik keras konsep pembangunan Koperasi Desa Merah Putih
(KDMP). Mereka meminta kejelasan cetak biru mengenai mitigasi risiko gagal
usaha pada program tersebut agar nantinya tidak menjadi beban keuangan baru
bagi APBDes.
Aliansi Cipayung menilai,
proteksi terhadap dana desa harus sejalan dengan upaya bersih-bersih dari
praktik korupsi. Oleh sebab itu, mereka mendesak DPR RI untuk segera
mengesahkan RUU Perampasan Aset tanpa kompromi politik demi penegakan hukum
yang transparan dan memberi efek jera maksimal bagi para koruptor.
Bukan hanya masalah ekonomi dan
hukum, mahasiswa juga menyoroti isu reformasi keamanan dan stabilitas harga.
Mereka menolak keras rencana revisi UU POLRI karena perluasan kewenangan
institusi kepolisian dinilai berlebihan serta mengancam keberlangsungan demokrasi.
Di sisi lain, pemerintah juga
dituntut segera mengeluarkan strategi nyata guna mengendalikan inflasi harga
kebutuhan pokok di pasar yang melonjak tajam imbas dari kenaikan harga BBM
belakangan ini.
Ketegangan di depan gerbang parlemen daerah akhirnya mereda setelah perwakilan massa aksi ditemui langsung oleh Ketua DPRD Tuban, Sugiantoro.
Sugiantoro
menyampaikan apresiasinya atas jalannya aksi yang tertib dan menyatakan
komitmen penuh untuk mengawal aspirasi tersebut. Karena kelima poin gugatan
merupakan ranah kebijakan nasional, DPRD Tuban berjanji akan segera meneruskan
surat tuntutan resmi mahasiswa ke pemerintah pusat dan DPR RI di Jakarta.
Mendengar janji tersebut, para
aktivis kabupaten Tuban menegaskan bahwa mereka tidak akan tinggal diam begitu
saja. Mereka siap terus mengawal isu-isu ini hingga ada perubahan kebijakan
yang nyata di masyarakat.

0Komentar