![]() |
| Eksplorasi Teknologi Tuban: Di Antara Ambisi Industri dan Realitas SDM (Foto : Ilustrasi) |
PC PMII TUBAN - Gelombang industrialisasi dan eksplorasi teknologi di Kabupaten Tuban perhari ini terus mencuat menjadi sesuatu yang seringkali digaungkan. Seperti Kawasan industri yang mulai berkembang, proyek energi dan manufaktur bertumbuh, serta digitalisasi layanan publik mulai diperkenalkan sebagai simbol modernisasi daerah. Tuban diproyeksikan bukan lagi sekadar wilayah penyangga, tetapi simpul pertumbuhan baru di pesisir utara Jawa.
Namun di tengah optimisme itu, ada pertanyaan mendasar yang perlu dijawab secara empiris: Apakah Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) lokal sudah siap mengikuti laju percepatan teknologi tersebut?
Berdasarkan Data resmi dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Tuban menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Tuban pada tahun 2024 berada di angka 72,31. Angka ini memang meningkat dibanding tahun sebelumnya dan menandakan kemajuan. Tetapi jika dicermati lebih mendalam, komponen pendidikan masih menjadi PR besar terhadap pemerintah daerah. Rata-rata lama sekolah di Tuban masih berada di kisaran jenjang menengah pertama, sementara proporsi penduduk yang menamatkan pendidikan tinggi masih sangat kecil dibanding total populasi.
Pendidikan menjadi SDM yang paling penting dalam kemajuan sebuah daerah. Ketika sebagian besar tenaga kerja hanya memiliki pendidikan dasar dan menengah, maka eksplorasi teknologi berisiko tidak menyentuh basis masyarakat secara meluas. Industri modern membutuhkan tenaga kerja terampil: operator mesin otomatis, teknisi, analis data, hingga pengelola sistem digital. Jika kompetensi tersebut tidak tumbuh dari masyarakat lokal, maka posisi strategis itu akan diisi oleh tenaga kerja dari luar daerah.
Kondisi seperti ini bukan hal yang mustahil. Banyak daerah industri di Indonesia mengalami paradoks pembangunan: infrastruktur megah berdiri, investasi meningkat, tetapi mobilitas sosial masyarakat lokal berjalan lambat. Daerah maju secara statistik ekonomi, namun ketimpangan justru melebar.
Eksplorasi teknologi tentu bukan kesalahan. Justru langkah penting agar Tuban tidak tertinggal dalam arus transformasi global. Namun, teknologi bukan sekadar perangkat keras dan sistem digital. Ia adalah alat yang efektivitasnya sepenuhnya bergantung pada manusia yang mengoperasikannya.
Karena itu, agenda utama arah pembangunan Tuban semestinya tidak berhenti pada investasi industri dan modernisasi fasilitas. Peningkatan kualitas SDM harus berjalan paralel, bahkan didahulukan. Pendidikan vokasi perlu diperkuat dan diselaraskan dengan kebutuhan industri yang nyata. Kurikulum sekolah menengah kejuruan harus adaptif terhadap perkembangan teknologi. Pelatihan kerja tidak boleh sekadar formalitas, tetapi menjadi proses peningkatan keterampilan yang berkelanjutan.
Industri besar yang beroperasi di Tuban juga memiliki tanggung jawab strategis. Program pengembangan masyarakat tidak cukup berupa bantuan sosial, melainkan harus berbentuk transfer pengetahuan, magang terstruktur, dan penguatan kompetensi teknis terhadap masyarakat lokal. Tanpa itu, eksplorasi teknologi hanya akan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang elitis.
Pembangunan yang berkelanjutan bukan hanya soal kecepatan pertumbuhan, melainkan tentang pemerataan peluang. Teknologi yang seharusnya menjadi instrumen pemberdayaan, bukan simbol kemajuan yang eksklusif. Jika Tuban ingin benar-benar naik kelas sebagai daerah industri modern, maka fondasi utamanya bukan sekadar mesin dan infrastruktur, melainkan manusia yang cakap, adaptif, dan kompeten dalam berbagai bidang yang diharapkan untuk kemajuan suatu daerah.
Tanpa penguatan SDM, eksplorasi teknologi berpotensi menjadi proyek ambisius yang tidak sepenuhnya mengakar. Sebaliknya, dengan investasi serius pada pendidikan dan keterampilan, Tuban bukan hanya akan menjadi pusat produksi, tetapi juga pusat inovasi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakatnya sendiri.
Oleh: Koor. Bidang Pengembangan Intelektual dan Eksplorasi Teknologi

0Komentar