![]() |
| Tuban Kaya Sumber Daya, Mengapa Pembangunannya Terlihat Kehilangan Arah? (Foto : Ilustrasi) |
PC PMII TUBAN - Kabupaten Tuban
merupakan salah satu daerah dengan potensi sumber daya alam terbesar di Jawa
Timur. Kekayaan batu kapur yang menopang industri semen, keberadaan sektor
minyak dan gas, aktivitas pertambangan, hingga masuknya investasi besar
seharusnya menjadi modal utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan potensi sebesar itu, Tuban semestinya mampu menjadi daerah yang unggul
dalam pendidikan, kesehatan, pengentasan kemiskinan, serta penciptaan lapangan
kerja.
Kabupaten Tuban
tidak pernah kekurangan modal untuk menjadi daerah maju. Di bawah tanahnya
tersimpan kekayaan batu kapur yang menopang industri semen nasional. Di
wilayahnya berdiri industri minyak dan gas, aktivitas pertambangan, hingga
investasi yang nilainya mencapai triliunan rupiah. Secara teori, daerah dengan
kekayaan seperti ini seharusnya tidak kesulitan menghadirkan pendidikan yang
berkualitas, pelayanan kesehatan yang baik, lapangan pekerjaan yang luas, serta
tingkat kemiskinan yang terus menurun.
Namun teori sering
kali kalah oleh realitas.
Di bawah
kepemimpinan Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky, wajah kota memang berubah.
Taman-taman baru bermunculan, ruang publik ditata, kawasan perkotaan terlihat
lebih rapi dan menarik. Tidak ada yang salah dengan pembangunan yang
mempercantik kota. Persoalannya muncul ketika pembangunan yang terlihat lebih
cepat berkembang dibanding pembangunan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Taman memang indah
dipandang. Namun taman tidak bisa menggantikan pekerjaan. Lampu hias tidak bisa
menurunkan angka kemiskinan. Trotoar yang estetik tidak otomatis membuat
anak-anak kembali ke bangku sekolah. Pada akhirnya, masyarakat hidup bukan dari
panorama pembangunan, melainkan dari manfaat pembangunan itu sendiri.
Inilah pertanyaan
yang layak diajukan kepada pemerintah daerah: apakah pembangunan sedang
diarahkan untuk menyelesaikan persoalan rakyat, atau justru lebih sibuk
membangun citra keberhasilan?
Pertanyaan tersebut
menjadi relevan ketika kemiskinan masih menjadi persoalan yang belum
benar-benar terselesaikan. Ironisnya, kondisi itu terjadi di daerah yang
memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah. Tuban menghasilkan nilai ekonomi
yang besar dari industri dan pertambangan, tetapi manfaatnya belum sepenuhnya
terasa merata di tengah masyarakat. Kekayaan daerah semestinya menjadi alat
untuk memperkecil kesenjangan, bukan sekadar memperbesar angka investasi.
Pemerintah
Kabupaten Tuban memang telah melakukan pendataan masyarakat sebagai dasar
penyusunan kebijakan pengentasan kemiskinan. Langkah tersebut patut
diapresiasi. Namun masyarakat tentu menunggu sesuatu yang lebih penting
daripada sekadar proses pendataan. Data bukanlah tujuan akhir. Data hanya akan
menjadi tumpukan dokumen apabila tidak diterjemahkan menjadi kebijakan yang
mampu mengubah kehidupan masyarakat.
Publik berhak
bertanya: berapa banyak warga yang berhasil keluar dari kemiskinan karena
kebijakan tersebut? Program apa yang benar-benar lahir dari hasil pendataan?
Bagaimana indikator keberhasilannya? Sebab ukuran keberhasilan pemerintah
bukanlah seberapa lengkap data yang dimiliki, melainkan seberapa nyata
perubahan yang dirasakan masyarakat.
Persoalan
pendidikan pun menghadirkan ironi yang tidak kalah besar.
Kabupaten Tuban
masih menghadapi angka putus sekolah yang menjadi perhatian pemerintah daerah.
Pada saat yang sama, jabatan Kepala Dinas Pendidikan masih dijabat oleh
pelaksana tugas (Plt.). Secara administratif hal itu memang dimungkinkan. Namun
dalam perspektif tata kelola pemerintahan, kondisi tersebut menimbulkan
pertanyaan mengenai seberapa besar prioritas yang diberikan pemerintah terhadap
sektor pendidikan.
Ironi itu semakin
terasa ketika dalam kurun waktu yang berdekatan terjadi kerusakan pada sejumlah
bangunan sekolah, termasuk SDN Kutorejo III yang lokasinya tidak jauh dari
Kantor Bupati Tuban. Bangunan sekolah yang rusak bukan sekadar persoalan
infrastruktur. Ia adalah simbol bagaimana fasilitas pendidikan masih
membutuhkan perhatian yang lebih serius.
Sulit berbicara
mengenai bonus demografi apabila ruang belajar anak-anak sendiri belum
sepenuhnya menjadi prioritas. Lebih sulit lagi berbicara tentang masa depan
ketika investasi triliunan rupiah terus berdatangan, tetapi kualitas pendidikan
masih menghadapi persoalan mendasar.
Paradoks inilah
yang menjadi wajah pembangunan Tuban hari ini. Daerahnya kaya, investasinya
besar, tetapi kualitas sumber daya manusianya belum melesat secepat nilai
investasi yang masuk.
Begitu pula dengan
sektor pertambangan. Tidak ada yang menolak investasi selama manfaatnya
benar-benar kembali kepada masyarakat. Namun investasi tidak boleh hanya diukur
dari besarnya nilai proyek atau tingginya pertumbuhan ekonomi. Yang jauh lebih
penting adalah apakah masyarakat sekitar memperoleh kesempatan kerja yang
layak, apakah lingkungan tetap terjaga, dan apakah kerusakan infrastruktur
akibat aktivitas industri segera ditangani.
Jalan-jalan yang
rusak akibat kendaraan bertonase tinggi, persoalan debu, hingga dampak
lingkungan yang dirasakan masyarakat tidak boleh dianggap sebagai konsekuensi
yang harus diterima begitu saja. Kehadiran pemerintah seharusnya tampak paling
kuat ketika kepentingan masyarakat berhadapan dengan kepentingan ekonomi.
Di tengah besarnya
anggaran pembangunan, aspek tata kelola juga tidak boleh luput dari perhatian.
Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang masih
memuat sejumlah temuan menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan daerah tetap
memerlukan pembenahan dan tindak lanjut secara serius. Temuan tersebut menjadi
pengingat bahwa keberhasilan pembangunan bukan hanya diukur dari banyaknya
proyek yang selesai dikerjakan, tetapi juga dari seberapa efektif, efisien, dan
akuntabel setiap rupiah uang rakyat digunakan.
Yang menjadi
persoalan bukanlah membangun taman. Yang dipersoalkan adalah ketika taman
lebih cepat selesai dibanding penyelesaian persoalan kemiskinan. Yang
dipertanyakan bukanlah mempercantik kota. Yang dipertanyakan adalah mengapa
wajah kota berubah lebih cepat daripada kualitas hidup masyarakatnya.
Pembangunan memang
membutuhkan simbol. Namun simbol tidak boleh menggantikan substansi. Sebab
masyarakat tidak memilih pemimpin untuk membangun latar belakang foto media
sosial. Masyarakat memilih pemimpin untuk menyelesaikan persoalan yang selama
bertahun-tahun membelenggu kehidupan mereka.
Pada akhirnya,
keberhasilan seorang kepala daerah tidak akan dikenang dari jumlah taman yang
diresmikan, banyaknya gapura yang dibangun, atau seberapa estetik kawasan
perkotaannya. Sejarah jauh lebih sederhana dalam memberikan penilaian. Sejarah
hanya akan bertanya: apakah rakyat hidup lebih sejahtera dibanding sebelum
ia memimpin?
Jika jawaban atas
pertanyaan itu masih harus dicari di balik gemerlap pembangunan fisik, mungkin
memang sudah saatnya arah pembangunan Tuban dievaluasi kembali. Sebab daerah
yang kaya sumber daya alam semestinya tidak hanya mampu membangun kota yang
indah, tetapi juga menghadirkan kehidupan yang lebih adil, lebih sejahtera, dan
lebih bermartabat bagi seluruh warganya.
Penulis : Roviq Wahyudin

0Komentar